Parihaka

Anda di sini

Pemukiman yang terdiri dari bangunan dan rumah sederhana, Parihaka merupakan salah satu situs bersejarah paling penting di Selandia Baru.

Berlokasi tujuh kilometer dari pesisir dekat Pungarehu, Parihaka adalah pemukiman Taranaki kecil dengan sejarah besar. Peristiwa yang terjadi di tempat itu dan sekitar daerah tersebut, khususnya antara tahun 1860 dan 1900, berpengaruh terhadap dinamika politik, budaya, dan spiritual di seluruh negara.

Di tahun 1870-an dan 1880-an, Parihaka adalah tempat berlangsungnya serangkaian protes damai di Selandia Baru ketika dua pimpinan Maori, Te Whiti o Rongomai dan Tohu Kakahi menggunakan metode perlawanan pasif untuk menduduki tanah Maori yang telah disita pemerintah kolonial. Penyitaan tersebut adalah pelanggaran langsung terhadap Treaty of Waitangi, yang ditandatangani pada tahun 1840.

Pada tanggal 5 November 1881, Menteri Masyarakat Pribumi John Bryce datang ke Parihaka membawa 1.500 angkatan bersenjata kepolisian dan milisi relawan. Tidak ada perlawanan di sana. Te Whiti dan Tohu Kakahi ditangkap dan dipindahkan ke South Island, di mana mereka ditahan tanpa pengadilan lebih dulu selama dua tahun.

Keberlanjutan warisan spiritual di Parihaka adalah salah satu contoh hidup selaras dengan bumi dan manusia. Beberapa orang, dengan mengacu pada metode tanpa kekerasan Te Whiti, menyebutnya sebagai "Gandhi sebelum Gandhi".

Kota ini menjadi tuan rumah festival damai internasional tiap tahun di bulan Januari, dan masih merupakan tempat pertemuan antara masyarakat suku Te Whiti o Rongomai dan Tohu Kakahi di hari ke-18 setiap bulan.

Temukan & pesan penerbangan